Kamis, 10 Desember 2015

Laporan Tekstur Tanah

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR ILMU TANAH


TEKSTUR TANAH






DI SUSUN OLEH :

NAMA                                    : YOHANIS SARMA
            NIM                                        : G11115536
            KELAS/ KELOMPOK          : E /14
            ASISTEN                               : MAGFIRAH DJAMALUDDIN




LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH
JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015



I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tanah dapat ditemukan hampir dimana saja dan kiranya tanah itu selalu bersama kita.Karena itu kebanyakan orang tidak pernah berusaha menentukan apakah tanah itu,darimana asalnya dan bagaimana sifatnya.Mereka tidak memperhatikan bagaimana tanah itu di suatu tempat berbeda dengan tanah di tempat lain. Tanah juga merupakan komponen hidup dari lingkungan yang penting.Bila tanah disalahgunakan, tanaman menjadi kurang produktif. Bila ditangani secara hati-hati dengan memperhatikan tabiat fisik dan biologinya, akan terus menerus menghasilkan tanaman dalam beberapa generasi yang tidak terhitung (Hanafiah, 2014).
       Tanah terdiri dari butir-butir yang berbeda dalam ukuran dan bentuk, sehingga diperlukan istilah-istilah khusus yang memberikan ide tentang sifat teksturnya dan akan memberikan petunjuk tentang sifat fisiknya. Untuk ini digunakan nama kelas seperti pasir, debu, liat dan lempung. Nama kelas dan klasifikasinya ini, merupakan hasil riset bertahun-tahun dan lambat laun digunakan sebagai patokan. Tiga golongan pokok tanah yang kini umum dikenal adalah pasir, liat dan lempung (Buckman, 1982).
Penentuan kelas tekstur suatu tanah secara teliti harus dilakukan analisa tekstur di laboratorium yang disebut analisa mekanik tanah. Dalam menetapkan tekstur tanah ada tiga metode yang digunakan yaitu metode lapang, hydrometer, dan pipet. Metode yang digunakan dalam praktek ini adalah metode hydrometer. Sifat fisik tanah ditentukan oleh permukaan butiran tanah, sifat-sifat kimia dari butiran dan kandungan bahan organik.  Butiran-butiran yang menyusun tanah mempunyai ukuran yang berbeda-beda (Hanafiah, 2014). Perbedaan ukuran dan jumLah butiran tersebut sangat mempengaruhi tekstur tanah. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu diadakan percobaan tentang tekstur tanah.
1.2    Tujuan dan kegunaan
Tujuan praktikum tekstur tanah adalah untuk mengetahui dan menentukan kelas tekstur pada tanah secara tepat. Kegunaan praktikum tekstur tanah adalah sebagai bahan informasi dalam menentukan tanaman budidaya pada daerah itu atau tanaman apa yang cocok pada jenis tekstur tersebut.




TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tekstur Tanah
Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah  (separat) yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir, fraksi debu dan fraksi liat.Tanah terdiri dari butir-butir pasir, debu, dan liat sehingga tanah dikelompokkan kedalam beberapa macam kelas tekstur, diantaranya kasar, agak kasar, sedang, agak halus,dan hancur (Hanafiah, 2014).
            Tekstur tanah dapat menentukan sifat-sifat fisik dan kimia serta mineral tanah. Partikel-partikel tanah dapat dibagi atas kelompok-kelompok tertentu berdasarkan ukuran partikel tanpa melihat komposisi kimia, warna, berat, dan sifat lainnya.  Analisis laboratorium yang mengisahkan hara tanah disebut analisa mekanis.  Sebelum analisa mekanis dilaksanakan, contoh tanah yang kering udara dihancurkan lebih dulu disaring dan dihancurkan dengan ayakan 2 mm.  Sementara itu sisa tanah yang berada di atas ayakan dibuang. Metode ini merupakan metode hydrometer yang membutuhkan ketelitian dalam pelaksanaannya. Tekstur tanah dapat ditetapkan secara kualitatif dilapangan (Hakim, 1986).
Kasar dan halusnya tanah dalam klasifikasi tanah (taksonomi tanah) ditunjukkan dalam sebaran butir yang merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah dengan memperhatikan pula fraksi tanah yang lebih kasar dari pasir (lebih besar 2 mm), sebagian besar butir untuk fraksi kurang dari 2 mm meliputi berpasir lempung, berpasir, berlempung halus, berdebu kasar, berdebu halus, berliat halus, dan berliat sangat halus (Hardjowigeno, 1995).
2.2 Faktor-Faktor  Yang Mempengaruhi Tekstur Tanah
Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain : Iklim, Jika kondisi iklim hujan maka tanah selalu dalam keadaan basah, hal ini dapat mempengaruhi keadaan tekstur tanah dan akan terjadi proses pencucian (leaching).       Organisme, keberadaan organisme dapat menjadikan tekstur tanah menjadi semakin subur karena organisme dapat menjadi kompos dan pengurai. Bahan induk, Jika bahan induk tanah berasal dari batuan maka tekstur tanah akan cenderung memiliki pori-pori yang besar. Topografi, Berubahnya muka bumi akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk pada tekstur tanah, misalnya dalam hal kepadatan dan bentuk strukturnya. Waktu Semakin lama suatu tanah di permukaan bumi maka teksturnya akan semakin padat karena adanya pengaruh dari kekuatan luar misalnya organisme (Poerwowidodo, 1991).
Adapun faktor yang dipengaruhi oleh tekstur tanah antara lain: Konsistensi, Semakin liat suatu tekstur maka konsistensi akan semakin besar, sebaliknya jika tekstur memiliki pori-pori yang renggang dan permukaan luas maka kosistensi akan semakin kecil. Kadar air, semakin liat tekstur tanah maka air yang tersedia akan semakin banyak didalamnya karena pada tekstur liat dapat mengikat air lebih kuat dengn pori-porinya yang halus dan padat. Organisme, jika suatu tanah memiliki tekstur liat maka organisme yang ada didalamnya akan sedikit karena tekstur liat sangat padat dan sangat sulit ditembus, sebaliknya pada tekstur lempung terdapat banyak organisme karena ketersediaan unsur haranya banyak dan mudah ditembus. Perakaran, semakin liat tekstur tanah maka akan semakin sulit untuk ditembus oleh perakaran tumbuhan. Pengolahan, semakin liat tekstur tanah maka akan semakin sulit untuk diolah karena tekturnya padat. (Poerwowidodo, 1991).
2.3 Hubungan Tekstur Tanah dengan Pertumbuhan Tanaman
Tanah pada masa kini sebagai media tumbuh tanaman didefenisikan sebagai lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi dan unsur-unsur esensial sedangkan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota yang berpatisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat adiktif bagi tanaman (Hanafiah, 2014).
Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro, tanah yang didominasi debu akan mempunyai pori-pori meso (sedang), sedangkan didominasi liat akan banyak mempunyai pori-pori mikro. Hal ini berbanding terbalik dengan luas permukaan yang terbentuk, luas permukaan mencerminkan luas situs yang dapat bersentuhan dengan air, energi atau bahan lain, sehingga makin dominan fraksi pasir akan makin kecil daya tahannya untuk menahan tanah (Hakim, 1986).
Fraksi pasir umumnya didominasi oleh mineral kuarsa yang sangat tahan terhadap pelapukan, sedangkan fraksi debu biasanya berasal dari mineral yang cepat lapuk, pada saat pelapukannya akan membebaskan sejumLah hara, sehingga tanah bertekstur debu umumnya lebih subur ketimbang tanah bertekstur pasir (Hardjowigeno, 1995).




III. METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum pengamatan tekstur tanah ini bertempat di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Universitas Hasanuddin, Makassar dan pada hari Rabu, 4 November 2015 pukul 11.30 WITA, pada hari Kamis, 5 November pada pukul 10.00 WITA, dan pada hari Jumat, 6 November 2011 pukul 08.00 WITA.
3.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini di lapangan adalah Diagram penuntun tekstur dengan feeling dan labu semprot. Sedangkan alat yangdigunakan dilaboratorium adalah botol tekstur, cawan petri, silinder sedimentasi, botol semprot, saringan 0,05 mm, hydrometer, thermometer, dan oven. Kemudian bahan yang digunakan dilapangan adalah sampel tanah kering yang telah diayak dan air. Bahan yang digunakan dilaboratorium adalah sampel tanah terganggu, larutan calgon, aquades, amyl alkohol, plastik dan karet gelang.
3.3  Prosedur Kerja
3.3.1. Prosedur Kerja di Lapangan Menggunakan Metode Feeling
1.    Mengambil segenggam tanah, tambahkan air sedikit demi sedikit sambil meremas agregat tanah, sehingga didapatkan pasta tanah pada kondisi sekitar batas plastis (dapat dengan mudah dibentuk, tidak terlalu basah, tidak terlalu kering) dan membuat bola tanah.
2.    Menempatkan bola tanah di antara ibu jari dan telunjuk, pelintir tanah ke atas dengan ibu jari untuk secara perlahan membentuk pita tanah yang panjang hingga patah dengan sendirinya.
3.    Membasahkan sejumLah tanah pada telapak tangan, lalu gerus dengan ibu jari.
4.    Merasakan, apakah tanah itu kasar, halus, dan berdebu.
3.3.2. Prosedur Kerja di Laboratorium dengan Metode Hydrometer
1.        Menimbang 20 gram tanah kering udara, butir-butir tanah ini berukuran kurang dari 2 mm.
2.        Memasukkan kedalam erlenmeyer atau botol tekstur dan menambahkan 10 mL calgon 4% dan air secukupnya.
3.        Menutup dengan plastik, aduk dengaan spatula dan setelah itu di diamkan 1-2 jam.
4.        Menuangkan secara kualitatif semua isinya kedalam silinder sedimentasi 500 mL yang diatasnya dipasangi saringan dan corong lalu membersihkan botol tekstur dengan bantuan botol semprot.
5.        Menyemprot dengan botol semprot sambil diaduk-aduk semua suspensi yang masih tinggal pada saringan sehingga semua partikel debu dan liat turun.
6.        Memindahkan pasir yang tertinggal ke dalam cawan dengan botol semprot kemudian masukkan kedalam oven bersuhu 105 °C selama 1 x 24 jam, selanjutnya memasukkan ke dalam desikator dan timbang hingga berat pasir diketahui (catat sebagai C gram).
7.        Menuangkan larutan suspensi dalam silinder sedimentasi dengan air destilasi hingga 500 mL.
8.        Mengangkat silinder sedimentasi sumbat baik-baik dengan plastik lalu ikat dengan karet gelang lalu kocok dengan membolak-balikkan tegal lurus 180° sebanyak 20 kali, atau dapat juga dilakukan dengan memasukkan pengocok kedalam silinder sedimentasi lalu aduk naik turun selama 1 menit.
9.        Menuangkan dengan cepat kira-kira 3 tetes amyl alkohol kepermukaan suspensi untuk menghilangkan gangguan buih yang mungkin timbul.
10.    Memasukkan hydrometer kedalam suspensi dengan hati-hati agar suspensi tidak banyak terganggu setelah 15 detik.
11.    Mencatat pembacaan hydrometer pertama ( H1) dan suhu suspensi ( t1) setelah 40 detik.
12.    Mengeluarkan hydrometer dari suspensi dengan hati-hati.
13.    Memasukkan hydrometer dan catat pembacaan hydrometer kedua ( H2 ) dan suhu suspensi kedua ( t2) setelah menjelang 8 jam.
14.    Menghitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan dibawah ini:
Berat debu dan liat          =– 0,5..........( a )
Berat liat                          =  – 0,5..........( b )
Berat debu                       = berat ( debu + liat ) – berat liat ...............( a + b )
15.    Menghitung persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan:
% Pasir     =  x 100 %
% Debu    =  x 100 %
% Liat      =  x 100 %
16.    Memasukkan nilai yang didapat kedalam segitiga tekstur.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Berdasarkan pengamatan dan penghitungan yang telah dilakukan diperoleh data  sebagai berikut:
Tabel 8.3. Pengamatan tekstur tanah lapisan I, lapisan II, dan lapisan III.
Tanah Lapisan
Metode
Feeling
Hydrometer
I
Liat Berpasir
Liat Berpasir
II
Lempung
Liat
III
Lempung Berliat
Lempung Berliat

4.2 Pembahasan
Jika kita sudah mengetahui persentase fraksi maka kita sudah dapat menggambarkan sifat fisik tanah tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Hanafiah (2014) bahwa apabila sifat fraksi dan kelas tekstur tanah sudah diketahui maka gambaran umum tentang sifat fisik tanah dapat diperkirakan.
Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulakan bahwa tanah tersebut memiliki sifat fisik yang kurang baik, karena tanah yang berfisik baik menurut Hanafiah (2014) bahwa pada kelas tekstur tanah lempung berpasir, proporsi fraksi pasir yakni 40 hingga 87,5 %, debu kurang dari 15 % dan liat kurang dari 20 %. Pada kelas tekstur ini, tanah masih di anggap berfisik baik atau berporeus sedang sehingga akar tanaman yang tumbuh diatasnya akan leluasa untuk berkembang.
Pada lapisan I berdasarkan tabel diatas penentuan tekstur tanah didapatkan bahwa pada horizon ini tanah bertekstur liat berpasir yang komposisinya didominasi oleh liat, penetapan ini sesuai seperti yang di teorikan oleh Hanafiah (2014) yang juga menyebutkan bahwa pada tekstur liat berpasir, komposisi pasir lah yang paling dominan dimana pasir proporsinya mencapai 45 hingga 62,5%, dan  liat hanya berproporsi sekitar 40%, sedangkan proporsi debu kurang dari 40%. Pada tekstur ini, tanah tidak poreus air sehingga akar tanaman akan sulit berpenetrasi dengan bebas sebab pori-pori makronya sangat sedikit bahkan tidak ada sama sekali, yang ada hanyalah pori-pori mikro yang ditunjukkan dengan tingkat kepadatan tanahnya.
Dari pengamatan yang telah dilakukan, kita dapat mengetahui bahwa tanah yang diamati tidak cocok ditempati untuk bercocok tanam kecuali disertai irigasi. Misalnya tanaman jagung dan kentang, seperti yang telah dijelaskan dalam Hanafiah (2014) bahwa jagung ideal tumbuh pada tanah bertekstur lempung, sedangkan kentang ideal tumbuh ditanah bertekstur lempung berpasir. Namun keduanya tumbuh ideal pada tanah bertekstur pasir apabila disertai dengan irigasi.

Jika diperhatikan pada lapisan II terdapat perbedaan antara metode feeling dengan metode hydrometer, hal ini mungkin desebabkan karena metode feeling yang kurang akurat sebab metode feeling membutuhkan kepekaan indra perasa, kemahiran dan pengalaman yang cukup. Hal ini sesuai dengan pendapat Hanafiah (2014) yang mengemukakan bahwa dilapangan tekstur tanah dapat ditentukan dengan kepekaan indra perasa yang membutuhkan pengalaman dan kemahiran, makin peka indra perasa maka makin mendekati kebenaran atau makin identik dengan hasil penetapan dilaboratorium.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan metode feeling dan metode hydrometer tanah lapisan I dan III memiliki hasil yang sama yaitu lapisan I bertekstur Liat Berpasir dan lapisan III bertekstur Lempung Berliat dan untuk lapisan III memiliki hasil yang berbeda untuk metode feeling hasilnya yaitu tekstur Lempung sedangkan pada metode hydrometer hasilnya yaitu tekstur Liat. Tanah yang diamati memililiki sifat fisik yang kurang baik dan tidak cocok untuk bercocok tanam kecuali disertai irigasi.

5.2 Saran
Sebaiknya pada penetapan tekstur tanah ini tidak hanya dilakukan dengan metode feeling atau perkiraan dilapangan atau di kebun percobaan saja, akan tetapi juga dilakukan pengujian di laboratorium untuk memperoleh pengetahuan yang lebih baik dan hasil penetapan yang akurat seperti yang telah dilakukan.
           


DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H.O. dan N.C. Brandy, 1982.  Ilmu Tanah. Jakarta: Brata Karya Aksara,.
Hardjowigeno, S., 1995.  Ilmu Tanah. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa,.
Hakim, Nurjati. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.
Hanafiah, K.A. 2014. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Rajawali Pers.
Poerwowidodo. 1991. Ganesha Tanah. Jakarta : Rajawali Pers.





LAMPIRAN
Perhitungan Penentuan Tekstur Tanah dengan Menggunakan Hydrometer
Lapisan I
Diketahui :
H1        = 6,5 cm
H2        = 5,5 cm
t1          = 28 oC
t2          = 30 oC
c          = 3,6 gram
Ditanyakan :
Kelas Tekstur ....?
Penyelesaian :
Berat debu dan liat   =– 0,5
– 0,5
– 0,5
– 0,5
– 0,5
=  4,48 – 0,5
=  3,98 gram.......................................(a)

Berat liat         =– 0,5
– 0,5
– 0,5
– 0,5
– 0,5
=  4,28 – 0,5
=  3,78 gram.......................................(b)

Berat debu               = berat (debu + liat) – berat liat
                                 = 3,98 – 3,78
                                 = 0,2 gram...........................................(b – a)




Persentase pasir, debu dan liat yaitu:
% Pasir            =    x 100 %
            =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 47,49 %
% Debu           =    x 100 %
                        =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 2,64 %
% Liat                         =    x 100 %
            =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 49,87 %
Jadi, kelas tekstur untuk lapisan I adalah liat berpasir.
Lapisan II
Diketahui :
H1        = 7 cm
H2        = 4 cm
t1          = 29 oC
t2          = 29 oC
c          = 2 gram
Ditanyakan :
Kelas Tekstur ....?
Penyelesaian :
Berat debu dan liat   =– 0,5
– 0,5
– 0,5
– 0,5
– 0,5
=   4,88 – 0,5
=  4,38 gram.......................................(a)

Berat liat         =– 0,5
– 0,5
– 0,5
– 0,5
– 0,5
=  3,38 – 0,5
=  2,88 gram.......................................(b)

Berat debu               = berat (debu + liat) – berat liat
                                 = 4,38 – 2,88
                                 = 1,5 gram...........................................(b – a)







Persentase pasir, debu dan liat yaitu:
% Pasir            =    x 100 %
            =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 31,35 %
% Debu           =    x 100 %
                        =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 23,51 %
% Liat                         =    x 100 %
            =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 45,14 %


Jadi, kelas tekstur untuk lapisan II adalah liat
Lapisan III
Diketahui :
H1          = 6 cm
H2          = 3 cm
t1             = 28 oC
t2          = 30 oC
c          = 2,6 gram
Ditanyakan :
Kelas Tekstur ....?
Penyelesaian :
Berat debu dan liat   =– 0,5
0,5
– 0,5
 – 0.5
– 0,5
4,23 – 0,5
3,73 gram.......................................(a)

Berat liat                  =– 0,5
– 0,5
– 0,5
 – 0,5
– 0,5
3,03 – 0,5
2,53 gram.......................................(b)

Berat debu               = berat (debu + liat) – berat liat
                                 = 3,73 – 2,53
                                 = 1,2 gram...........................................(ab)





Persentase pasir, debu dan liat yaitu:
% Pasir            =    x 100 %
                        =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 41,07 %
% Debu           =    x 100 %
                        =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 18,96 %
% Liat                         =    x 100 %
                        =   x 100 %
                        =   x 100 %
                        = 39,97 %

Jadi, kelas tekstur untuk lapisan III adalah lempung berliat


Sabtu, 05 Desember 2015

Laporan PENGEMBANGAN DAN PENGERUTAN TANAH

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR ILMU TANAH


PENGEMBANGAN DAN PENGERUTAN TANAH






DI SUSUN OLEH :

NAMA                                    : YOHANIS SARMA
            NIM                                        : G11115536
            KELAS/ KELOMPOK          : E /14
            ASISTEN                               : MAGFIRAH DJAMALUDDIN




LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH
JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015



I. PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Sifat mengembang dan mengerut adalah masuk atau keluarnya air ke atau dari antara lempeng-lempeng liat kristal tipe 2 : 1 menyebabkan terlihatnya sifat mengembang dalam keadaan basah dan mengerut kalau kering. Pengembangan terjadi karena beberapa sebab, sebagian pengembangan terjadi karena penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat yang menyebabkan pengembangan dalam kristal. Akan tetapi, sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid-koloid dan ion-ion yang teradsorbsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika memasuki pori tanah. Retakan-retakan tanah dapat memperbaiki aerasi tanah pada bagian lebih dalam. Namun, retakan-retakan yang terlalu lebar dapat menyebabkan putusnya akar-akar tanaman.
Pengembangan tanah adalah penjenuhan air sehingga menutupi celah-celah retakan tanah yang diakibatkan oleh pengerutan. Tanah yang banyak mengandung mineral liat smectit memperlihatkan sifat mengembang dan mengerut. Kation-kation dan molekul-molekul air sudah masuk antara unit kristal mineral sehingga mineral akan mengembang saat basa dan mengerut saat kering, karena banyaknya air yang hilang pada tanah tersebut. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorilonit yang tinggi. Oleh sebab itu, para ahli bangunan sangat berhati-hati.
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan pH menunjukkan bahwa banyaknya konsentrasi ion hydrogen (H+) didalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ didalam tanah maka semakin masam tanah tersebut sedangkan jika didalam tanah ditemukan ion OH- yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+ maka tanah tersebut tergolong alkalis (OH- lebih banyak daripada H+). Pengembangan dan pengerutan yang tidak sama dapat menyebabkan retaknya pondasi gedung-gedung sedangkan jalan yang diperkeras menjadi bergelombang.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu melaksanakan praktikum mengembang dan mengerut untuk mengetahui presentase pengerutan dan pengembangan tanah sehingga dapat diperoleh tekhnik pengolahan tanah yang efektif.

1.2     Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum ini adalah mendemonstrasikan sifat mengembang dan mengerut tanah dan mengukur besarnya pengembangan dan pengerutan berdasarkan koefisien pengembangan linier.
Kegunaan dari praktikum mengembang dan mengerut adalah untuk mengetahui cara pengolahan pada tanah-tanah yang memiliki sifat pengembangan dan pengerutan serta cara pemanfaatannya.




II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Proses Terjadinya Mengembang dan Mengerut
Mengembang dan mengerut merupakan salah satu sifat fisik tanah. Di mana sifat mengembang ditandai dengan terisinya semua ruang pori tanah baik makro maupun mikro oleh molekul-molekul air dan gejala ini terjadi ketika tanah dalam keadaan basah. Sedang sifat mengerut tanah terjadi ketika tanah dalam keadaan kering setelah basah yang ditandai dengan semakin mengecilnya pori-pori tanah pada waktu mengerut. Pengerutan biasanya terjadi pada musim kemarau atau musim kering. Pengerutan adalah keadaan di mana tanah mengalami retakan retakan, yang disebabkan oleh karena ruang atau pori tanah tersebut tidak terisi oleh air yang cukup(Hakim, 1986).
Sifat mengembang dan mengerut tanah disebabkan oleh kandungan liat montmorillonit yang tinggi. Besarnya pengembangan dan pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Coefficient of Linear Extendility ) atau PVC ( Potential Volume Change = swell index = indeks pengembangan)    (Hardjowigeno, 1998).
Montmorilonit mengakibatkan tanah Inceptisol mempunyai sifat mengembang dan mengerut dengan penjenuhan dan pengeringan. Potensi pengembangan dan pengerutan tanah berkaitan erat dengan tipe dan jumlah liat dalam tanah. Tanah Inceptisol yang banyak mengandung mineral liat akan memperlihatkan sifat mengembang pada waktu basah karena kation-kation dan molekul air mudah masuk pada rongga antara kristal mineral. Tanah yang mengembang selalu memilki kandungan liat yang banyak, di mana mungkin saja mempunyai kemampuan yang tinggi menyimpan air, akan tetapi peredaran udara dalam tanah atau aerase tidak baik, penambahan bahan organik akan mengurangi masalah kekurangan air pada tanah berpasir. Bahan organik membantu mengikat butiran liat dan membentuk ikatan yang lebih besar sehingga memperbesar ruang-ruang udara diantara ikatan butiran (Pairunan, 1997).

2.3     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan dan Pengerutan
Faktor-faktor yang mempengaruhi mengembang dan mengerut adalah pengembangan terjadi karena penetrasi air ke dalam lapisan kristal liat yang menyebabkan pengembangan di dalam kristal. Akan tetapi sebagian besar terjadi karena tertariknya air ke dalam koloid-koloid dan ion-ion yang terabsorbsi pada liat dan karena udara yang terperangkap di dalam pori mikro ketika memasuki pori tanah. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi sifat mengembang dan mengerut pada tanah dalah kadar air dalam tanah, luas ruang atau pori tanah serta kandungan mineral liat. Ketiga faktor ini sangat berpengaruh disebabkan karena apabila kadar air dalam tanah tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air, sehingga terjadi pengembangan pada tanah.begitu juga sebaliknya. Kandungan liat juga sangat berpengaruh disebabkan karena permukaan liat yang besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar liat yang tinggi sangat mudah terjadi pengembangan begitu pula sebaliknya (Foth, 1994).         
Sifat mengembang dan mengerut tanah disebabkan oleh kandungan liat mentrollnit yang tinggi. Tanah mengembang  pada saat basah dan tanah mengerut pada saat kering. Akibatnya pada saat musim kering tanah menjadi pecah-pecah kalau basah tanah mengembang dan menjadi lengket. Apabila tanahnya memiliki kandungan liat yang tinggi maka pertikel liatnya akan mudah mengalami perluasan akibatnya tanah ini mengembang pada keaadan lembab dan mengerut pada keadaan kering. Pada saat kering tanah vertisol (Hardjowigeno,1998 ).       
2.2     Hubungan Mengembang dan Mengerut dengan Kadar Air
Antara pengembangan dan pengerutan, kohesi dan plastis berhubungan erat satu sama lain. Ciri-ciri ini tergantung tidak hanya pada campuran lempung dalam tanah, tetapi juga sifat dan jumlah humus yang terdapat bersama koloid organik. Sifat tergantung pada struktur pengembangan tanah (Fonth, 1994).
          Hubungan Mengembang dan mengerut dengan kadar air yaitu apabila kadar air dalam tanah tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air sehinggat erjadi pengembangan pada tanah begitu juga sebaliknya. Kandungan liat juga sangat berpengaruh disebabkan karena permukaan liat yang besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar liat yang tinggi sangat mudah terjadi pengembangan begitu pula sebaliknya        (Foth, 1994).
          Tanah yang mempunyai kemampuan mengembang dan mengerut paling tinggi disebabkan oleh kandungan liat, maka permeabilitasnya semakin lambat. Hal ini menyebabkan tanah mempunyai retakan-retakan yang banyak. Air yang mengalir melalui retakan-retakan menyebabkan perkolasi makin tinggi. Hal inilah yang menyebabkan pengukuran kecepatan air perkolasi di musim kering sering menghasilkan kesalahan-kesalahan (Font 1994).      










III. METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum pengembangan dan pengerutan dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin,Makassar, Pada hari Jumat, 27 November 2015 Pukul 10.00-11.00.
3.2  Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah COLE device, sepatula dan mistar panjang. Bahan-bahab yang digunakan terdiri dari sampel tanah terombak, air dan gemuk.
3.3  Prosedur Kerja
1.    Menyiapkan COLE device yang bagian dalamnya telah diolesi gemuk.
2.    Melumatkan (remold) secara merata pada sampel tanah yang telah disiapkan hingga tanah bebrbentuk pasta yang halus tanpa agregat.
3.    Memasukkan pasta tanah kedalam COLE device  dengan menggunakan sepatula.
4.    Membiarkan tanah mengering dalam ruangan.
5.    Mengukur panjang tanah setelah tanah mengering, kemudia dicatat dalam lembar data.
6.    Menghitung COLE dengan rumus

COLE=100 x ( la – lf ) / la
Keterangan:
·         la = Panjang tanah awal
·         lf = Panjang tanah akhir








IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan hasil yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 10. Pengamatan pengembangan dan pengerutan tanah.
Lapisan Tanah
Panjang Sebelum Diovenkan (cm)
Panjang Sesudah Diovenkan (cm)
COLE
I
21 cm
18,6 cm
11,42 %
II
21 cm
18,6 cm
11,42 %
III
21,4 cm
19 cm
11,42 %

4.2  Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka diperoleh panjang tanah sebelum diovenkan pada lapisan satu yaitu 21 cm, lapisan dua 21 cm dan lapisan tiga 21,4 cm kemudian panjang tanah sesudah diovenkan pada lapisan satu adalah 18,6 cm, lapisan dua 18,6 cm dan lapisan tiga 19 cm. Sehigga didapatkan presentase pada lapisan satu adalah 11,42 %, lapisan dua 11,42 dan lapisan tiga juga 11,42. Jika bandingkan dari panjang tanah awal dengan panjang tanah akhir dapat dilihat bahwa tanah yang diamati mengalami pengerutan karena tanahnya memendek setelah diovenkan, jadi dapat disimpulkan bahwa  tanah tersebut dalam keadaan kering karena menurut Hardjowigeno (1998) Tanah dapat terbagi menjadi beberapa jenis yang masing-masing memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada jenis tanah yang mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengkerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka tanah menjadi pecah-pecah.
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa hampir pada setiap lapisan tanah mengalami pengerutan, sehingga dapat disimpulkan bahwa tanah yang diamati memiliki pori yang kecil dan memililiki kadar air yang sangat rendah sehingga terjadi pengerutan. Hal ini sesuai dengan pendapat Munir (1996) yang mengemukakan bahwa apabila kadar air dalam tanah tinggi maka pori atau ruang dalam tanah akan banyak terisi oleh air, sehingga terjadi pengembangan pada tanah, begitu juga sebaliknya.
Jika didasarkan pada tabel diatas tanah yang diamati menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki kadar liat yang rendah karena tidak mampu menyerap air sehingga mengalami pengerutan karena menurut Munir (1996) Kandungan liat juga sangat berpengaruh disebabkan karena permukaan liat yang besar dan dapat menyerap banyak air sehingga tanah yang memiliki kadar liat yang tinggi sangat mudah terjadi pengembangan begitu pula sebaliknya. Namun jika tanahnya diteliti tanah tersebut memiliki liat yang cukup tinggi karena tanah yang amati bertekstur liat berpasir. Jadi dapat disimpulkan bahwa tanah tersebut tidak mampu menyerap air bukan karena memiliki kadar liat yang rendah tetapi karena tidak ada air yang dapat diserap oleh tanah tersebut, sehingga mengalami pengerutan, karena saat itu adalah musim kemarau.


V.  KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka diperoleh panjang tanah sebelum diovenkan pada lapisan satu yaitu 21 cm, lapisan dua 21 cm dan lapisan tiga 21,4 cm kemudian panjang tanah sesudah diovenkan pada lapisan satu adalah 18,6 cm, lapisan dua 18,6 cm dan lapisan tiga 19 cm. Sehigga didapatkan presentase pada lapisan satu adalah 11,42 %, lapisan dua 11,42 dan lapisan tiga juga 11,42. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan dan pengerutan pada tanah  yang diamati adalah kondisi tanah, pori tanah atau  ruang dalam tanah, kadar air dan tekstur tanah.
5.2  Saran
Dalam praktikum sifat mengembang dan mengerut selanjutnya untuk menghindari kesalahan data hendaknya harus melakukan percobaan sesuai dengan prosedur-prosedur agar hasil yang didapatkan pada akhirnya adalah data yang akurat. Dalam pengolahan lahan-lahan pertanian sebaiknya diperhatikan tingkat pengembangan dan pengerutan suatu tanah, karena hal tersebut akan mempengaruhi kualitas suatu lahan sebagai media tumbuh tanaman.







DAFTAR PUSTAKA
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Pairunan, dkk. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Makassar: Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Indonesia Timur.
Hardjowigeno, S. 1998. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.
Foth, Hendry D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta:  Gadjah Mada University Press.
Hakim, Nurhajati dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung..